Gubernur Banten Andra Soni mengumumkan pada Kamis, 17 September 2026, bahwa operasi SAR gabungan yang melibatkan Basarnas, TNI, Polri, dan unsur maritim lainnya dihentikan setelah pencarian selama tujuh hari diperpanjang tiga hari tanpa menemukan petunjuk pasti tentang lokasi kapal atau penumpangnya.
Pencarian telah dilakukan melalui laut, udara, dan penyisiran pulau‑pulau di sekitar Selat Sunda sejak kapal terakhir kali melaporkan keberadaannya pada Senin, 7 September 2026, ketika berangkat dari Carita menuju perairan Gunung Anak Krakatau.
Keluarga kru, termasuk Heriyanto, menyatakan masih berharap mendapatkan kabar dan berencana melanjutkan pencarian secara mandiri dengan melibatkan warga dan nelayan setempat, mengingat belum ada kepastian mengenai nasib kapal atau penumpangnya.
Meskipun operasi resmi ditutup, Basarnas menegaskan bahwa pemantauan wilayah tetap berlangsung dan pencarian dapat dibuka kembali bila muncul informasi atau petunjuk yang dapat diverifikasi, serta mengimbau kapal patroli dan masyarakat sekitar untuk melaporkan benda atau tanda yang mencurigakan.
Selama sepuluh hari pencarian, sejumlah barang mengapung seperti jaket pelampung dan terpal ditemukan, namun hasil pemeriksaan belum dapat mengonfirmasi kaitannya dengan KM Arupadatu I.
Polda Banten mengirimkan sampel DNA keluarga rombongan ke Polda Bengkulu untuk dicocokkan dengan jenazah tak dikenal yang ditemukan di Pulau Enggano, Bengkulu; proses identifikasi diperkirakan memakan waktu sekitar dua minggu, dan hingga kini belum ada hasil yang mengaitkan jenazah tersebut dengan rombongan yang hilang.
Pada Jumat, 18 September 2026, keluarga jurnalis dan kru mengikuti upacara tabur bunga di perairan Selat Sunda sebagai bentuk penghormatan dan harapan agar nasib mereka segera terungkap, dipandu oleh KN SAR Tetuka yang membawa mereka ke koordinat terakhir kapal dilaporkan hilang kontak.
Delapan orang yang hilang terdiri dari lima jurnalis—M. Bagus Khoirunnas (ANTARA), Ari Basuki (Merdeka.com), Yudhistiro Pranoto (iNews), Firdaus Wajidi (Anadolu Agency), dan Donal Husni (wartawan lepas)—serta tiga anggota kru: kapten Warta, awak kapal Surakman/Sukarman, dan pemandu Heriyanto.
Sampai saat ini tidak ada pernyataan resmi yang menyatakan bahwa kedelapan orang tersebut telah meninggal; status mereka tetap 'belum ditemukan' dan pencarian dapat dilanjutkan bila ada petunjuk baru.