Di tengah terik matahari Kota Kretek, semangkuk es gempol pleret yang disajikan di warung Pak War menjadi penyegar yang tak tergantikan bagi warga yang mencari rasa segar dan tradisional.
Minuman ini menggabungkan kuah santan gurih dengan sirup merah muda manis, serta beragam isian seperti gempol kenyal, pleret, putu mayang, tape ketan, kolang‑kaling, dawet, dan potongan buah, menciptakan kombinasi rasa yang unik.
Warung tersebut dimiliki oleh Warsono, yang telah mengoperasikannya sejak tahun 2000. Lebih dari dua dekade berjualan, usaha sederhana ini tetap menjadi tempat nongkrong favorit, terutama pada hari-hari panas ketika tenggorokan membutuhkan kesegaran ekstra.
Satu porsi es gempol pleret komplit dibanderol Rp 15.000, harga yang dianggap terjangkau oleh banyak kalangan. Popularitasnya tidak hanya bertahan, melainkan terus menarik generasi muda yang ingin merasakan cita rasa warisan kuliner lokal di tengah maraknya minuman kekinian.
Keberadaan es gempol pleret di Kudus mencerminkan daya tahan kuliner tradisional Indonesia, yang tetap relevan meski pasar minuman terus berubah. Warung Pak War menjadi contoh nyata bagaimana usaha kecil dapat mempertahankan identitas budaya sambil tetap bersaing secara ekonomi.