Kepala Seksi Operasi Kantor SAR Banten, Rizky Dwianto, mengatakan perluasan area itu dilakukan dengan menyiagakan total 24 unit kapal gabungan di 10 sektor. Ia menyampaikan hal tersebut di Posko Utama SAR Gabungan, Pantai Carita, Kabupaten Pandeglang, Kamis (17/9). Menurutnya, hari ke-10 ini merupakan hari ketiga masa perpanjangan operasi SAR, dan pembagian menjadi 10 sektor utama diharapkan memperbesar kemungkinan ditemukannya objek pencarian.
Armada yang dikerahkan meliputi empat KN SAR milik Basarnas dari Banten, Lampung, Jakarta, dan Bengkulu, tiga unit RIB, lima KRI, dua KAL, serta satu RBB dari TNI AL, delapan unit kapal Polairud, dan satu unit kapal patroli KPLP. Operasi ini melibatkan 523 personel SAR gabungan.
Berdasarkan peta rencana operasi Basarnas, sektor pencarian paling luas berada di Sektor C seluas 3.380 NM persegi yang disisir KRI Leuser dan KRI Dewa Kembar hingga memasuki perairan Samudra Hindia di sebelah barat Pulau Belimbing menuju selatan Pulau Enggano, Bengkulu. Sektor A seluas 1.156 NM persegi dikawal KN 213 Bengkulu di perairan barat Sumatera, Sektor B seluas 494 NM oleh RIB 020 yang memutari Pulau Enggano, dan Sektor D seluas 637 NM oleh KRI Teluk Gilimanuk serta KN SAR Antasena di barat laut Pulau Panaitan hingga pintu Samudra Hindia arah barat laut.
Di perairan Lampung, Sektor E seluas 542 NM disisir KRI Kerambit di selatan Teluk Semangka, Sektor F seluas 484 NM oleh KN SAR Basudewa yang memutari Pulau Tabuan, dan Sektor G seluas 316 NM dikawal RIB 02 Lampung, KRI Lepu, serta KAL Pahawang di perairan Gunung Anak Krakatau dan Pulau Sebesi.
Di kawasan Banten, Sektor H seluas 589 NM disisir KN SAR Tetuka bersama lima kapal lain di selatan Anak Krakatau hingga Pulau Panaitan. Sektor I seluas 397 NM menyisir pesisir Anyer, Carita, hingga Sumur, sedangkan Sektor J seluas 114 NM mengawal perairan Anyer hingga Merak.
Selain penyisiran laut, tim SAR gabungan berkoordinasi intensif dengan VTS dan pemangku kepentingan terkait untuk mengencangkan pemantauan e-broadcast kepada seluruh kapal yang melintasi perairan Selat Sunda. Rizky menambahkan, operasi sangat bergantung pada kondisi aktivitas Gunung Anak Krakatau dan cuaca yang berdasarkan analisa Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dilaporkan fluktuatif. Cuaca diperkirakan berawan dengan tinggi gelombang 0,5-3,5 meter serta angin 10-20 knot.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melaporkan Gunung Anak Krakatau berstatus Level III (Siaga) dengan diiringi aktivitas gempa vulkanik dangkal. 'Seluruh area yang kami bagi di dalam 10 sektor itu masuk di dalam wilayah yang memang pergeseran kapal ataupun person on board (POB) yang kita cari jadi tidak ada titik khusus. Berharap cuaca akan mendukung,' kata Rizky Dwianto.