Istilah tersebut menggabungkan kata doom, yang berarti malapetaka atau kehancuran, dengan scrolling, yakni menggulir layar. Aktivitasnya berupa pencarian atau konsumsi berulang atas berita dan informasi yang menimbulkan kekhawatiran, termasuk ketika pengguna semula hanya berniat membuka media sosial sebentar sebelum tidur.
Dalam pola ini, informasi tambahan dicari dengan harapan memberikan kepastian atau ketenangan. Namun, semakin banyak konten negatif yang dibaca, kecemasan justru dapat bertambah. Pengguna kemudian kembali mencari informasi baru meskipun kegiatan tersebut membuatnya semakin khawatir.
Salah satu faktor yang berperan adalah negativity bias, yaitu kecenderungan memberi perhatian lebih besar pada informasi negatif daripada positif. Kepekaan terhadap ancaman dijelaskan sebagai mekanisme yang membantu manusia mengenali bahaya di lingkungan sekitarnya.
Di media sosial, kecenderungan itu dapat diperkuat oleh algoritma. Konten yang membangkitkan rasa takut, marah, atau khawatir berpotensi menarik perhatian dan mendorong pengguna membuka unggahan terkait berikutnya. Rangkaian tersebut dapat berlangsung tanpa pengguna menyadari lamanya waktu yang dihabiskan untuk menggulir layar.